Wednesday, October 10, 2012

Dari sekian rentan waktu yang panjang, saya terhentak di satu titik.
Kepergian ayah yang begitu cepat dan mendadak.
Tak sanggup untuk menjabarkannya.

Saya pernah menanyakan pada diri sendiri dan pasangan.
Kalau disuruh memilih siapa yang meninggal duluan diantara orang tua kita,
siapa kira-kira?

Ayah sosok yang baik. Namun ia tidak pernah lepas dari obat-obatan maag-nya.
Ibu dan saya sering berselisih paham. Peredamnya ya cuma ayah.
Entahlah. Pasanganpun tidak mampu menjawab.

Masa itupun datang.
Ternyata Tuhan tahu yang terbaik.
Bukan menyukuri kepergian ayah. Sama sekali tidak.
Tapi di saat sakit seperti ini,
saya tahu saya dapat mengandalkan bubur buatan ibu,
sentuhan ibu, dan asupan semangatnya.

Terima kasih Tuhan,
saya diberi kesempatan untuk lebih berdamai dengan ibu yang keras.
Persis seperti anaknya.

Monday, August 04, 2008

Seorang pria pernah mengajarkan saya satu hal: jujur.
Sayangnya itu tidak berlaku untuk dirinya sendiri.

Seseorang yang lebih muda pernah menegaskan prinsipnya yang sinis.
Setahun kemudian, prinsipnya berubah.

Beberapa orang pernah meragukan ide saya.
Sekarang, semuanya persis seperti yang pernah saya utarakan.

Seseorang yang lain pernah meyakinkan saya akan suatu teori positifnya.
Hari ini, teorinya tidak berlaku.
Karena saya membuktikan teorinya bullshit.

Wednesday, June 20, 2007

Semua orang sudah bisa menjadi publisher sekarang.
Bayangkan berapa banyak orang yang sudah punya blog, entah itu blogger, multiply, friendster, blogdrive, dan macam-macam.

Mereka sangat berhak menulis apapun yang ada di dalam kepala mereka.
Bagus,
karena banyak orang yang mulai menulis,
karena banyak yang menjalin silahturahmi,
karena banyak yang mulai kritis akan sesuatu,
karena banyak informasi yang bisa dibagi,
karena, karena, karena, dan karena...

karena itu, saya belajar memahami...
sangat kasihan melihat mereka yang sok kritis, dan memakai media itu untuk menyindir atau menyakiti hati seseorang apalagi mereka yang dekat dengan kita (seperti yang pernah juga saya lakukan).
Tulisan bukan menjadi ajang untuk mengadu domba atau menyindir, atau untuk menggiring massa.
Tidak perlu reply banyak untuk menyakinkan diri atau mencari pembenaran pendapat diri sendiri.
Tidak perlu contact banyak untuk membuktikan banyak teman.
Kamu pernah baca ini sebelumnya?
On Multiply the goal is not to build the biggest network but to have a meaningful network that reflects your real relationships and ensures that you receive messages from people you know.

Kesalahpahaman kerap muncul dalam dunia nyata.
Bisa dibayangkan apakabar dengan dunia maya?
Lisan lebih terasa daripada tulisan.
Begitupun dengan hal ini.
Lagian semua punya banyak urusan masing-masing. Mari kita urus yang lebih penting.
Sorry for talking shit.

Monday, June 18, 2007

Saya tahu ada hitam putih, baik buruk, pro kontra, dan ada bermilyar2 juta atau lebih tentang hal yang berseberangan (apa istilahnya... duh lupa).
Tapi saya baru mengalaminya (lagi).
Lihatlah betapa menyakitkannya tulisan-tulisan di sana, seperti menyerang.
Dan lihatlah betapa sulitnya suamiku untuk terlelap malam itu.
Di dalam kepalanya, bukan di dalam perutnya.
Pikirannya, bukan kopinya.
Seiring waktu berlari... diapun menemukan teorinya, rumusnya, dan waktu tidurnya.

Saya berkoar tak lelah.
Seolah ingin seisi dunia tahu, bahwa saya juga terluka.
Saya rasakan apa yang dirasakannya.
Saya menyintainya, seperti diri saya sendiri, walaupun itu tidak baik.
Sebegitu dekatnya...
Saya bersedih dengan gaya saya, sebagai perempuan.

Sekarang tiba saat saya.
Belajar pro kontra.
Biar... usah dipaksakan pro.
Karena kontra terjadi demi keseimbangan...

Tapi sebagai tips, bila ingin menjadi perempuan sinis, jangan sensitif.
Engkau bangga menjadi sinis?
Padahal kata orang tua saya dulu, tidak baik menjadi sinis.
Mungkin orang tuanya tidak bilang begitu dulu... mungkin karena kakek neneknya juga tidak bilang begitu dulu... hahaha!

Friday, May 04, 2007





"the night"